Abu Hurairah, salah satu sahabat paling miskin datang menemui Rasulullah SAW.
Dia belum makan sesuatu selama beberapa hari.
Abu Thalhah (seorang Anshar) mengajaknya ke rumah untuk memberinya makan. Tetapi tidak ada makanan di rumahnya kecuali beberapa sup yang dibuat istrinya untuk anak-anaknya.
Istrinya bertanya kepada suaminya apa yang mesti dilakukan, dan mereka berdua memutuskan sebagai berikut :
Mereka akan menidurkan anak mereka tanpa diberi makan. Karena Sup tsb terlalu sedikit untuk memuaskan semua orang, maka hanya tamulah yang akan memakannya.
Saat mereka duduk dan siap untuk makan, istri Abu Thalhah akan memukul lilin, dan memadamkannya seolah-olah tak sengaja.
Dalam kegelapan mereka akan berperilaku seolah-olah sedang makan, kendati sebenarnya yang makan hanyalah Abu Hurairah. Itulah yang mereka lakukan.
Abu Hurairah makan sampai kenyang dan kemudian pergi dan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Pada hari berikutnya mereka pergi Shalat Subuh di Mesjid. Pada akhir Shalat, Rasulullah SAW berpaling kepada mereka dan bertanya, “ Apa yang kalian lakukan semalam sehingga turun ayat yang yang memuji kalian ini, ‘dan mereka mengutamakan orang lain ketimbang diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukannya “ (QS Al-Hasyr [59] :9)
Nah, sudahkah kita selama ini berbagi dengan orang lain ?
Yang bisa kita teladani dari cerita hikmah diatas adalah semangat untuk memberi sesuatu kepada orang lain tanpa vested interest.
Ia melakukan sesuatu karena tuntutan Hati Nurani dan semata-mata karena Allah SWT.
Seperti juga yang pernah dikatakan oleh Presiden Amerika Calvin Coolidge, “ Tak seorangpun pernah diberikan kehormatan atas apa yang diterimanya. Kehormatan diberikan sebagai imbalan atas apa yang diberikannya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar